Bagaimana jika kehilangan seseorang adalah sebuah kebiasaan?
Ada satu kalimat yang memang benar adanya "seseorang akan datang dan pergi."Bukan hanya tentang kepergian orang lain, bisa saja kepergian diri kita sendiri dari dunia ini dan meninggalkan orang yang menyayangi kita. Kita tidak akan pernah tahu, siapa yang akan merangkul Tuhan terlebih dahulu. Namun yang pasti, Tuhan akan menjemput hambanya diwaktu yang tepat.
Waktu itu,ramadhan kurang 11 hari lagi akan usai. Aku mengikuti pesantren ramadhan yang diadakan organisasi di daerahku. Menginap satu malam di pondok pesantren terdekat, agar bisa merasakan menjadi santriwati meskipun sehari. Dihari itu, aku hanya terus memikirkan, bagaimana ya menjadi anak pondok yang sesungguhnya. Namun, itu hanya haluan semata karena tidak akan ada waktu untuk itu.
Aku mengikuti secara khidmat pembukaan acara pesantren ramadhan ini. Sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan bersama teman-teman lainnya. Ketenangan itu tidak berlangsung lama, ada notif masuk yang membuat jantungku berhenti berdetak beberapa detik saking kagetnya. Pesan dari sepupuku "Nenek Nini, meninggal." Pesan yang singkat, padat dan jelas. Aku langsung gemeteran setelah membaca pesan itu. Langsung aku berlari ke bawah, mencari lorong mencoba untuk menenangkan pikiranku yang sedang bergejolak begitu hebatnya akan kabar tersebut. Seakan menghantam dan menusuk berkali-kali. Air mataku tak terbendung lagi dan perlahan mengalir membasahi kedua pipi. Berusaha menyeka air mata dan dan menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan diri.
Kucoba menghubungi sepupuku, namun diseberang sana tidak ada balasan satu kata pun. Hanya berdering. Beralihlah aku menghubungi bibi, paman dan saudaraku yang lainnya. Hasilnya nihil, semua tidak menjawab teleponku. Hembusan nafasku terengah-engah saking takutnya dan bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku cuma ingin memastikan apakah kabar itu benar atau tidak. Meskipun ku selipkan jika kabar itu hanyalah ilusi ku semata.
Teringat ibu, aku langsung menghubunginya dan bercerita tentang pesan singkat dari sepupuku ini. Diujung telepon sana terdengar sangat jelas bahwa beliau sedang menahan isak tangis. Namun beliau menahan kesedihannya dan malah mencoba menenangkan diriku yang sedang kalut.
"Semua orang akan mati. Jika kabar itu memang benar, ikhlaskan saja. Karena inilah yang terbaik menurut Tuhan. Kita tidak bisa mencegah atau mempercepat kepergian seseorang dari raganya. Kita tidak mempunyai hak untuk hak itu. Semuanya milik Tuhan, bahkan diri kita sendiripun tak pantas untuk mengakui bahwa diri ini milik kita sendiri. Semuanya punya Tuhan." suara ibu yang coba ku resapi pelan-pelan dan perlahan membuat diriku tenang.
Tak lama setelah itu, bibiku menelpon ku. Padahal aku sudah naik ke lantai dua untuk mengikuti acara selanjutnya. Bibiku bilang, jika nenekku sekarang keadaannya sedang koma, sepupuku tadi terlalu cepat mengambil kesimpulan sampai membuat orang khawatir saja. Aku menjelaskan ke bibi bagaimana keadaanku sekarang dan sedang apa. Karena tidak mungkin aku langsung ke sana menjelang malam apalagi aku masih mengikuti acara ini. Bibiku mengatakan, jika sibuk tidak usah kemari, tunggu saja kabar dariku. Aku hanya mengatakan iya tanda paham.
Setelah mendengar kabar dari bibi tadi, hatiku sangat lega. Dan aku tidak memikirkan itu tadi meskipun tidak lupa selalu berdoa serta mencoba berdamai dengan sendiri terhadap apapun yang terjadi kedepannya.
Kembali ke acara pesantren ramadhan, kami sholat berjamaah, tadarussan, tidur, sahur bareng, tadarussan lagi. Dan akhirnya keesokan harinya pukul 07.00 WIB kami dibolehkan pulang karena acara sudah selesai. Aku menahan kantuk yang hebat, karena tidurku tak nyaman dan badanku menjadi pegal semua.
Sesampainya di kontrakan aku langsung menenggelamkan diriku dalam kasur yang nyaman. Ya bagaimana lagi ya, namanya anak rantau juga hihihi. Aku pun tertidur dalam keadaan ponsel menyala begitu terang dan notif suara yang ku tinggikan volumenya. Jaga-jaga jika ada yang menghubungi. Dan aku terlelap.
Pukul 10.30 WIB, ponselku berdering begitu keras sampai aku terperanjat dari tidurku saking kagetnya. Aku membaca sambil menyipitkan mata dan langsung terbangun karena bibi yang menghubungiku. Aku harap-hatap cemas tapi berusaha untuk tetap tenang. Aku mengangkat ponselku dan mendengarkan pesan yang disampaikan.
Aku langsung menuju ke kamar mandi untuk cuci muka, mengambil baju seadanya kemudian berangkat keluar kota hari itu juga. Bibiku berbicara seperti ini di ponsel, Nenek Nini sampai sekarang masih belum sadar dari komanya. Sepertinya beliau menunggu kamu datang kesini. Segeralah kesini, hati-hati dijalan.
Langsung aku ke terminal dan telah duduk di bangku bus yang kosong. Sengaja aku duduk didekat jendela untuk memandang apa-apa yang lewat dijalan. Dan aku pun mengecek ponsel ku. Ternyaman banyak panggilan masuk yang tak kuangkat, ada pesan dari ibu bapak yang ternyata mereka sudah berada disana. Bus rasanya lambat karena aku gegabah ingin segera sampai.
Beberapa jam, sampai aku tidur bangun, tidur bangun lagi. Dan sampai. Aku bersalaman dengan ibu bapak,bibi paman, semua orang yang berada di rumah itu. Langsung aku menuju kamar nenek nini, dan membisikkan bahwa aku sudah disini, aku harap engkau cepat sembuh. Aku sampai disini pukul 12.30 WIB, 2 jam perjalanan yang menurutku sangat lama.
Aku sholat, merayu Tuhan agar nenekku segera sadar. Ku lanjutkan membaca Kalam Qur'an sampai selesai satu juz. Sedangkan pamanku, mengadzani ditelinga nenekku. Kami akhirnya lelah dan hampir terlelap. Terbangun karena mendengar teriakan bibi yang mengatakan bahwa nenekku sudah tidak bernafas. Pukul 15.00 WIB waktu ashar disaat masjid-masjid melantunkan adzan. Beliau pergi dengan tersenyum. Seakan telah sembuh dari sakitnya, seakan telah bertemu dengan orang-orang terkasihnya yang sudah pergi lebih dulu.
Berkat ajaran ikhlas dari ibuku, kemudian ku tanamkan dan ku pahami maknanya. Aku mengikhlaskan kepergian beliau. Tidak ada setetes air mata pun membasahi kedua mimpi. Hanya ada senyuman tipis, untuk menerima kenyataan ini. Aku mencoba berdamai dengan kepergian seseorang. Orang yang aku sayangi, satu persatu meninggalkan aku. Dan aku sepertinya terbiasa mengalami kejadian ini. Hanya aku bertanya dalam hati, kenapa harus diambil lagi. Tapi ya memang, hanyalah Tuhan yang berhak mengambil.
Selamat jalan nek.
Selamat telah bertemu dan merangkul Tuhan.
Selamat telah menyapa orang terkasih mu yang meninggalkanmu terlebih dahulu.
Terimakasih Tuhan, telah memberiku pengalaman tentang kehilangan sampai-sampai aku merasa hambar saking bosannya.
Apapun yang terjadi aku selalu berusaha mengambil hikmahnya dan berusaha menerimanya.
Sekali lagi, terimakasih.
Malang, 05 April 2022
diwaktu hampir lonceng berbunyi
Kehilangan adalah memang hal yang sangat menyakitkan, kita menolak dia yang pergi tapi apa daya semua ini milik tuhan.
BalasHapusTapi bagaimana dengan kasih sayang? , kita menyayangi ortu,saudara, teman namun akhirnya kita semua akan berpisah
Thanks form your story
Semangats:)
nice try, putri. Sometimes we must realize that someone or something we love can go away. Overall ur story is so damn precious. Break a leg and keep doing ur best. May Allah bless u.
BalasHapus"kenapa harus ada kematian, kenapa harus ada kehilangan"
BalasHapusJangan bersedih, aku tidak pergi dan menghilang, aku hanya pulang kepangkuan Tuhan mu, semoga kelak kita kembali bertemu
Diluar konteks tulisan, sesuai janji pribadi, komentar lombok 5 pedes🙏